MAYORITAS MENINDAS MINORITAS


Sejak awal kemunculan islam dijazirah arab 14 abad silam, islam telah dipandang sebagai ancaman terhadap keyakinan keagamaan yg telah dulu mapan seperti agama yahudi, nasrani (kristen), pemeluk politheis, dan zoroaster yg banyak dianut penduduk arab dan warga dunia disekitarnya.

Didahului konflik melawan kafir quraisy yang didukung golongan yahudi dan nasrani, perkembangan dan penyebaran agama islam telah melewati banyak benturan fisik, puncaknya pecah perang salib melawan kaum kristen eropa yg menelan korban jutaan jiwa. Konflik umat islam melawan penganut budha dan hindu tidak terlalu dramatis serta berkepanjangan, karena pergerakan militer kaum muslimin waktu itu lebih terfokus pada kerajaan romawi dan persia.

Hingga kini perseteruan dan persaingan itu masih terasa, walaupun konflik yg terjadi bersifat lokal dan dlm satu negara. Seberapa besar nuansa konflik ditentukan oleh perimbangan jumlah penganut agama disuatu negara. Dinegara2 barat, eropa, amerika dan sebagian afrika yg didominasi pemeluk kristen kerapkali terjadi kasus2 penindasan dan kesewenang2an terhadap muslim sebagai kelompok minoritas. Sebaliknya jg begitu..termasuk di indonesia yg sebagian besar warganya beragama islam. Ini bagian dr hukum alam, yg kuat menindas yg lemah, senior menindas yunior dan mayoritas menindas minoritas.

Berbicara idealitas tentu seyogyanya tindas-menindas itu bs dihindari. Keinginan untuk lebih unggul, lebih benar, lebih kuat yg menjadi karakter alamiah manusia sepatutnya dapat dikelola dgn baik dan bukan malah dibiarkan menjadi budaya. Islam sebagai agama yg mengedepankan aspek perbaikan moralitas, akhlak dan toleransi memiliki landasan yg kuat tentang hal ini melalui salah satu ayat al-Qur'an, lakum diinukum waliyyadiin (bagimu agamamu, dan bagiku agamaku)..bila kita telah memahami dan menghayati ayat2 ini dgn baik, niscaya kasus2 konflik dan peperangan antar pemeluk agama itu bisa dicegah.

Islam tidak menyukai balas dendam, dan kalaupun pilihan itu harus diambil, tempuhlah dgn melakukan balasan yg serupa. Penghinaan atau pelecehan terhadap islam melalui tulisan, balaslah dgn tulisan, ucapan dibalas ucapan, penyerangan fisik dilawan dgn pembelaan secara fisik.

Beberapa hari lalu, ditemanggung pecah kerusuhan, ada pembakaran gereja lantaran massa tidak terima seorang kristiani yg melecehkan islam 'hanya' dituntut 5 tahun penjara. Kerusuhan ini adalah bentuk penindasan. Hukum positif diindonesia sudah mengatur soal pidana penistaan suatu agama. Dan putusan pengadilan harus dihormati, karena kita adalah manusia. Pengabaian terhadap hukum dan lembaga penegak hukum berarti pula mereduksi nilai2 kemanusiaan kita sendiri.

Penistaan, penghinaan dan pelecehan terhadap suatu agama adalah fenomena yg lumrah, walau tak begitu diekspos media. Di pengajian2 umat islam, dilingkungan org2 kristen, di milis2, bahkan di facebook ada jg group yg membuka ruang untuk saling mencaci-maki ajaran agama lain. Ketik saja di kolom pencarian "debat islam-kristen", yg isinya jauh dr kesan perdebatan yg argumentatif dan ilmiah. Cuma memuaskan hawa nafsu menghujat dan melecehkan. Yg muslim menghina 'tuhan' org kristen yg takberdaya ditiang salib, hanya bercawat, disiksa, dipermalukan dan dibunuh.

Sementara, si oknum org kristen menghina umat islam sebagai penyembah batu hitam (ka'bah), teroris, mengklaim nabi Muhammad sebagai pedofil, tukang kawin, perebut istri orang dan cap2 lain yg bila menuruti perasaan hanya akan menimbulkan sakit hati. Tp buat apa meladeni org yg ngga ngerti. Tak ada gunanya berdebat dgn orang yg mati mata hatinya.

Akan lebih baik jika kita meneladani Rosulullah yg hanya tersenyum kala setiap melewati rumah seorang kafir diludahi. Diludahi adalah penghinaan berat, apalagi bila dilakukan berkali2. Namun, Rosulullah tidak marah, tidak lantas menghunus pedang, tp baginda nabi memilih menunjukkan akhlak beliau yg begitu mulia. Bahkan saat si kafir ini sakit, beliau mengunjunginya. Akhlak Nabi inilah yg membuat si kafir luluh dan mendapatkan hidayah.

Akhirnya, saya ingin kita melihat kasus temanggung, ambon dan poso secara utuh. Konflik fisik adalah jalan terakhir, itupun harus melalui 'operasi terbatas', maksudnya konflik kekerasan hanya ditujukan pada org2 yg melakukan tindakan kekerasan dan menolak adanya perundingan. Islam mencintai kedamaian, dan kita sebagai pemeluknya harus mampu menjadi teladan yg baik bagi pemeluk agama lain. (
oleh Ainul Huda Afandi pada 11 Februari 2011 jam 17:12)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar