WALI


Siang td seperti biasanya sy menyempatkan diri membaca berita, ada kabar mengejutkan, makam Gus Dur ambles sedalam 1 meteran karena hujan deras. Konon menurut saksi mata, kain kafan jenazah Gus Dur masih terlihat utuh, putih dan bersih. Berhubung tak melihatnya secara langsung, atas berita ini, saya cuma bisa nyebut : subhanallah, Allahu A'lam.

Bagi sebagian kaum nahdiyin, sejak lama memang ada yg percaya KH. Abdurahman Wahid seorang waliyullah. Keyakinan ini berangkat dr prilaku dan ucapan Gus Dur yg kerap dianggap nyleneh dan dlm beberapa kejadian, beliau dipandang memiliki karamah 'weruh sakdurunge wineruh' . Pandangan senada dipercayai pula oleh ketua umum PBNU, KH. Said Aqil Siradj...lewat cerita2 yg mungkin anda pun pernah mendengarnya. Salah satunya ketika Kiyai Said diajak Gus Dur mencari wali untuk minta dido'akan di madinah.

"Setelah sempat berdo'a diraudah, dan telah muter2 dimasjid, bertemulah Gus Dur dan kiyai Said dgn orang pake surban tinggi, lagi ngajar dan santrinya banyak. Kiyai Said pun bertanya sm gus dur ‘apa orang ini wali, gus ?’, gus dur menjawab, ‘bukan’ akhirnya cari lagi, ketemu sm orang yg pake surban dengan jidat hitam , tp lg2 gus dur bilang ‘bukan ini’, kemudian gus dur menghentikan langkah di dekat orang yg pake surban kecil biasa, duduk diatas sajadah, barulah gus dur bilang, ‘ini adalah wali’. Kemudian kyai agil memperkenalkan pada wali tersebut, dalam bahasa arab, dan terjemahannya seperti ini ‘Syekh, ini sy perkenalkan namanya ustad Abdurrahman Wahid, ketua organisasi islam terbesar di asia’, akhirnya wali ini berdoa untuk gus dur semoga di ridloi, di ampuni , hidupnya sukses. setelah itu wali tersebut pergi sambil menyeret sajadahnya dan mengatakan ‘dosa apa saya? sampai2 maqom/kedudukan saya diketahui oleh orang’…"

Pertanyaannya sekarang, benarkah Gus Dur adlah seorang wali ? Saya kira pertanyaannya hampir serupa dgn : apakah mereka yg disebut sbagai 'walisongo' benar2 waliyullah ?. Sebgaimana diketahui, ada ulama yg menyatakan bahwa ‘yang mengetahui kedudukan seorang wali adalah sesama wali itu sendiri’. Dlm konteks pemahaman ini, berhubung saya bukan wali makanya ngga berhak menilai apakah seseorang itu waliyullah atau bukan.

Dalam pemahaman saya, waliyullah bersifat sangat pribadi dan tersembunyi. Seorang wali bs saja tokoh atau ulama yg populer yg wafatnya dihadiri ribuan org, bisa jg waliyullah yg terdiri dr orang biasa yg ketika beliau wafat hanya dihadiri segelintir manusia biasa, tanpa pernah dicatat dan dikenang namanya. Boleh jd kalau kita mengunjungi satu pemakaman, ada diantaranya makam waliyullah.

Tidak setiap waliyullah adalah ulama atau luas penguasaan ilmu agamanya, ada wali2 yg justru hanya sedikit saja menguasai ilmu normatif agama, bahkan boleh jd kita jauh lebih fasih berbahasa arab ketimbang beliau.


Mungkin ada diantara kita yg punya banyak wirid dan amalan agar kehendak kita bisa dikabulkan, tp bagi wali satu lafadz sederhana, misalnya "bismillah", akan segera dikabulkan oleh Allah. Bukan soal apa yg terucap, tp siapa yg melafalkannya. Agak berkebalikan dgn ungkapan, "dengarkan apa yg diucapkan, jangn lihat siapa yg mengucapkan".

Namun bila merujuk pada definisinya, saya memahami wali sebagai : predikat bagi para pendaki yg mencapai puncak iman dan ketaqwaan. Namanya taqwa, tentu sudah berarti menjalani syariat (secara dzohir, substansi dan hakekat). Imam asy-syatibi menyebutnya dgn hikmah syariah atau Ghaayatush-shidqi-fil ibadah. Secara teori tingkatan iman dan ketaqwaan bisa dipelajari oleh akal, namun secara praktek saking susahnya hanya bisa dicapai oleh org2 tertentu.

Sebagai muslim, kita punya peluang dan kesempatan mencapai derajad wali, tapi berhubung tingkah laku, hati dan pikiran kita masih dipenuhi urusan2 duniawi, paling banter jadinya ya cuma jd wali murid aja. Yg penting sekarang bagi kita adlh bagaimana berusaha agar bs beragama secara utuh, jd klo berislam jgn nanggung2 atau setengah2, syariatnya dibetulkan dulu, banyak menyebut asma Allah, sesekali berdo'a dgn perantara (media tempat atau lewat perantara org2 shaleh, baik yg masih hidup maupun yg telah wafat). Sebab, adakalanya karena terlalu 'jauh' 'hubungan' kita dgn Allah, dlm menyampaikan apa yg menjadi kehendak dan keinginan kita, kita kayaknya perlu menyertakan 'perantara' yg dekat dan dikasihi oleh Allah.

Nah, kalau derajad keimanan dan ketaqwaan dari waktu ke waktu berusaha kita tingkatkan, insyaAllah akan ada tanda2nya (ini yg disebut org sebagai pengalaman spiritual), walau berarti tantangannya otomatis lebih berat.

Sebagai analogi sederhana, mirip bermain game dgn level2 tertentu tingkatan permainan. Klo misalnya ada 10 level dan kita masih berada pada level pertama, berusahalah terus menerus agar bisa meningkat ke level kedua...banyak org karena capek ngga sukses meningkatkan level keimanan dan ketaqwaannya, justru malah berhenti 'bermain game', padahal jangan sampai terjadi disaat kita sedang 'jeda', malah keburu 'game over'.

Akhir catatan ini, bagiku..sejauh yg aku tau Gus Dur adalah org alim yg shalih, aku ngga tau dan ngga berhak mengklaim bahwa beliau adalah salah seorang waliyullah. Seyogyanya kita jg jangan terlalu mudah menganggap seseorang sbagai wali betapapun saktinya dia, kecuali anda memang salah seorang waliyullah. Suatu waktu klo ada kesempatan aku ingin berziarah ke makam beliau, bukan karena meyakini bahwa beliau wali, tp karena aku percaya beliau seorang muslim yg baik, alim dan shalih.

oleh Ainul Huda Afandi pada 19 Februari 2011 jam 3:44

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar